Saya bersama waktu menjelajah tiap jengkal jalan dengan hembusan nafas. Semua yang terlihat pasti akan terlukis dan tertulis, setidaknya di sini. Itulah saya
Dari kitab Muidzatul Mukminin, Kyai Ali Barqul 'Abid (Gus Ali) menjelaskan mengenai celakanya ghurur dan ghoflah bagi orang mukmin. Ghurur tertipu, terpedaya, atau dalam bahasa Jawa "keblithuk". Sedangkan ghoflah artinya lupa. Tertipu seakan dunia kekal sehingga terlena dan terlupa tidak maksimal menyiapkan akhiratnya. Kelebihan seorang mukmin dengan tidak membiarkan dirinya tertipu sehingga dia dapat menapaki kehidupan dengan lebih baik dan berbahagia. Inilah menurut beliau kunci keberuntungan, dan namanya kunci harus bisa diupayakan bahkan harus dimiliki bagi seorang mukmin. Tidak akan membiarkan dirinya tertipu, selalu hati-hati, berjaga-jaga, teliti, waspada penuh perhitungan dan berfikiran cerdik dalam setiap langkah yang diambilnya. Sementara bagi orang yang tiada beriman, akan membiarkan dirinya tertipu dengan karakter yang menandainya seperti sembrono, tanpa perhitungan, menggampangkan, lalai, sehingga menjadikan diri te...
Hari mulai gelap sesampainya di pantai Kasab Pacitan. Mendung menggelayut, sehingga sunset yang kami kejar tak kami dapatkan. Kami berdua hanya duduk-duduk di batu di bukitnya Kasab sambil menikmati sebisanya yang ada. Gugusan pulau kecil di sisi barat terlihat mirip anak-anak pulau, dan bukit tempat kami duduk mirip induknya. Jadi gak salah jika orang sering menyebut Pantai Kasab sebagai Raja Ampat-nya Pacitan. Sayang situasi kemarau membuat rumput dan dedaunan menjadi menguning bahkan mengering. Mungkin kalau sudah musim penghujan gugusan akan hijau begitu indahnya. Sisi barat adalah kawasan pantai Watu Karung dan gugusan pulau pulau kecil, sisi selatan lautan bebas dengan ombak yang menderu apalagi mendekati malam. Selengkapnya
Tertanggal 23 malam 24 Oktober 2008, sore itu Pak Yadi dapat udangan ke Alas Ketonggo Ngawi. Undangan dilewatkan Pak Nen, Pak Yadi sedang gerah sehingga mbak Katini (penunggu rumah) marah ke Pak Nen. Pak Nen bilang hanya menyampaikan amanah, Pak Yadi yang sedang sare di dalam kamar bangun karena dengar apa yg kami bicarakan. "Ayoo budal..." Perintah pak Yadi, ternyata Pak Yadi sudah pirso. Berempat ditambah pak Didik Merapi, kami berangkat. Hujan deras disertai angin sepanjang jalan yang kami lalui, mampir beli kembang di pasar Sleko. Jalanan sepi, banyak pohon tumbang. Polisi lalu lintas sibuk membersihkan jalan dari pepohonan yang melintang. Tanpa ada yang bicara, suasana tegang. Hanya sorot lampu kendaraan dan kilat yang terlihat karena listrik juga ikut padam. Puluhan kali pohon merintangi kami, namun saat kami sudah dekat warga sudah selesai membersihkan. Begitu berulang mulai dari Madiun, Maospati, Ngawi, Paron bahkan sepanjang jalur ke al...
Comments
Post a Comment